oleh

Pemprov Sulsel : “Banjir ini Karena Rusaknya Alam, Sulsel Bisa ‘Tenggelam’

Sulsel (Harian Medan) – Seorang pria bernama Samsul tidak bisa berbuat banyak ketika air tiba-tiba menggenangi kawasan rumahnya pada Selasa kemarin.

Meski bukan tsunami, air luapan Bendungan Bili-Bili itu menghempas dengan cepat. Beruntung, dia berhasil menyambar jeriken bekas sebagai pelampung. Dia pun akhirnya selamat dari terjangan banjir.

Meski selamat, pria paruh baya ini harus merelakan harta benda dan barang-barang berharga miliknya terendam. Banjir sudah menggenang hingga atap rumahnya yang berada di Blok 8 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Samsul tidak sendirian, ratusan warga lainnya di Perumnas Antang juga senasib dengannya. Selain jeriken seperti dirinya, sejumlah warga juga menggunakan peralatan seadanya demi menyelamatkan diri dari terjangan banjir.

“Selain ban dalam mobil bekas, ada juga yang pakai jeriken bekas yang penting selamat. Cukup pakaian di badan yang dipakai mengungsi ke tempat yang lebih aman,” kata Samsul Rabu 23 Januari 2019.

Hujan deras sepanjang Senin 21 Januari hingga Selasa 22 Januari membuat beberapa wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel) terendam banjir dan longsor.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, banjir yang disertai longsor berdampak pada 106 desa di 61 kecamatan pada 13 kabupaten atau kota di Sulsel. Banjir menyebar di Jeneponto, Maros, Gowa, Kota Makassar, Soppeng, Wajo, Barru, Pangkep, Sidrap, Bantaeng, Takalar, Selayar, dan Sinjai.

Data sementara BNPB mencatat, bencana ini menyebabkan 59 orang meninggal, 25 orang hilang, 47 orang luka-luka, dan 3.481 orang mengungsi. Selain itu, 79 rumah rusak, 4.857 rumah terendam, dan 11.876 hektare sawah terendam.

“Penanganan darurat bencana banjir, longsor dan puting beliung di Sulawesi Selatan terus kita lakukan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada Liputan6.com, Jumat 25 Januari 2019.

Luasnya wilayah yang terdampak dan cuaca hujan, kata Sutopo, menjadi kendala pihaknya bersama BPBD Sulsel dan pemerintah terkait dalam penanganan korban banjir di lapangan.

Pakar Hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Maryono menyatakan, meski berskala besar banjir di Sulsel bukan termasuk kategori banjir bandang, tapi hanya banjir besar.

“Banjir di Sulawesi tidak tergolong banjir bandang, melainkan banjir besar karena cuaca ekstrem,” ujarnya pada Jumat 25 Januari 2019.

Agus menyatakan, banjir dikategorikan banjir bandang bila datangnya tiba-tiba, berlangsung cepat, sekitar 20 sampai 60 menit, dan menghancurkan infrastruktur serta tak jarang memakan korban jiwa.

“Banjir bandang juga membawa beragam material dari atas (pegunungan), seperti lumpur, pasir, batu, kayu, dan menerjang hilir secara dahsyat,” jelasnya.

Meskipun datang tidak disangka, Agus mengatakan kerugian dari banjir bandang sebenarnya bisa diminimalkan. Potensi banjir bandang bisa dibaca lewat sejarah banjir di sebuah daerah.

“Jika sebuah daerah pernah dilanda banjir bandang, tidak menutup kemungkinan banjir bandang bisa kembali suatu waktu,” tuturnya.

Ia menyebutkan, di Indonesia hampir semua wilayah rentan banjir bandang, terutama di kawasan pegunungan yang lapuk. Terlebih Indonesia dikelilingi 6.500 sungai besar dan sekitar setengah juta sungai sedang dan kecil.

“Banjir bandang sering terjadi di daerah tekuk lereng,” ucap Agus.

Sementara itu, Direktur Walhi Sulsel M Amin menolak jika banjir Sulsel semata karena faktor cuaca ekstrem. Banjir bukan takdir.

“Perubahan iklim memang tidak bisa dihindari. Tapi ini bukan penyebab utama karena sebenarnya bisa diantisipasi,” ujar Amin saat dihubungi.

Analisis Walhi, kata Amin, banjir di Sulsel disebabkan karena daerah aliaran sungai (DAS) Jeneberang yang menjadi benteng utama Sulsel dari banjir, kondisinya sudah kritis. Hutannya juga tak kalah kritis. Aktivitas tambang di daerah hilir DAS Jeneberang juga sudah mengkhawatirkan.

“Dulu, sekitar lima tahun yang lalu kondisi DAS Jeneberang masih mampu mengatasi cuaca ekstrem. Tapi sekarang sudah sangat parah. Daya tampung air di kawasan itu menurun drastis,” kata dia.

Akibat tak terserap, air luruh dan menyebabkan erosi hingga ke Bendungan Bili-Bili. Tingginya debit air yang menerjang bendungan, membuat pihak terkait memutuskan untuk membuka bendungan.

“Imbasnya, keluarlah itu air bah. Meluap ke mana-mana. Banjir di mana-mana,” kata dia.

Dari pengamatannya, korban banjir terbanyak adalah warga yang tinggal di sekitar DAS Janeberang.

Sebagai langkah preventif agar banjir tidak kembali terulang, Amin mengusulkan agar pemerintah Sulsel segera membentuk tim khusus untuk restorasi kawasan DAS Jeneberang. Kawasan DAS Jeneberang harus dikembalikan fungsinya seperti semula.

“Ini momentum. Pemprov Sulsel sudah mengakui bahwa banjir ini karena rusaknya alam di Jeneberang. Jadi harus segera diatasi bersama,” ungkapnya.

Meski tidak mudah dan butuh waktu panjang, pihaknya yakin ini adalah solusi tepat agar Sulsel tidak tergenang lagi. (lp)

Komentar

News Feed