oleh

Pemerintah Gagalkan Penyelundupan Benih Lobster, Klaim yang Terbesar dalam Sejarah Indonesia

-Berita-7 views

Harian Medan-Pemerintah kembali menggagalkan upaya penyelundupan benih lobster setelah yang terakhir adalah pada bulan lalu. Tindakan terbaru dilakukan oleh Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Koarmada I yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Penggagalan dilakukan terhadap kapal cepat di Perairan Pulau Sugi, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa kemarin. Kapal cepat itu berupaya membawa benih lobster ke Singapura.

“Dari penangkapan terhadap speed boat tersebut diperoleh barang bukti sebanyak 44 kotak styrofoam diperkirakan berisi kurang lebih 264.000 ekor,” jelas Komandan Lantamal IV/Tanjungpinang Laksamana Pertama Arsyad Abdullah kepada Antaranews, Rabu (13/3).

Menurut perhitungan, total nilai benih lobster yang diselamatkan itu setara dengan Rp37.248.500.000.

Dalam jumpa pers yang juga dihadiri oleh Komandan Guskamla Koarmada I Laksamana Pertama TNI Dafit Santoso, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun mengucapkan rasa terima kasihnya. Apalagi nilai benih lobster tersebut terbesar dalam sejarah yang tercatat di Indonesia.

“Saya mengapresiasi sinergitas dan kerja sama yang baik petugas di lapangan sehingga berhasil menggagalkan tindakan llegal penyelundupan yang berpotensi menimbulkan kerugian negara yang besar Int,” kata Susi seperti dilansir pers , Rabu (13/3).

Dari hasil pemeriksaan, benih lobster terdapat dalam 1.320 kantong plastik yang dimasukkan ke dalam 44 kotak styrofoam. Dalam 41 kotak berisi 235.438 ekor benih lobster pasir dan tiga kotak berisi 9.664 ekor benih lobster mutiara. Seluruh benih lobster berasal dari Lampung, Bengkulu, dan Jambi.

Adapun upaya penggagalan dilakukan berkat informasi intelijen lapangan pada Selasa pagi. Dua kapal cepat yang melaju ke arah Singapura dari Perairan Sugi Batam itu langsung dikejar.

Kapal cepat berukuran panjang 16 m dan lebar 3,5 m itu melaju dengan kecepatan tinggi. Tim F1QR pun fokus untuk mengejar satu kapal yang terlihat membawa barang bukti.

“Karena terkepung oleh dua speed boat Tim F1QR akhirnya speed boat tersebut menabrak area bakau dan kandas pada posisi koordinat 00° 55′ 54″ LU – 103° 47′ 54” BT, sehingga berhasil diamankan oleh Tim F1QR.

Saat ini barang bukti telah diamankan di kantor Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Batam. Menurut rencana, sore ini benih lobster itu akan dilepasliarkan di Senoa, Bunguran Timur, Natuna, Kepulauan Riau.

Setelah dilakukan penyelidikan, Kepala Stasiun Karantina Ikan Pengendali Mutu (SKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Riza Friatna menjelaskan, ada seorang bandar yang membiayai 15 orang di Indonesia untuk menyelundupkan lobster ke Singapura.

Salah satunya diketahui ada di Batam yang termasuk dalam jaringan pantai timur Sumatera. Jaringan mulai dari Lampung, Bengkulu, Jambi, hingga (Kepri).

Besarnya nilai transaksi yang disiapkan untuk setiap orang berbeda-beda. Jumlahnya bisa mencapai Rp250 miliar per orang. Secara keseluruhan, bandar asal Singapura ini juga diketahui menyiapkan Rp500 miliar untuk 15 orang tersebut.

Sayangnya saat ini KKP belum dapat menindak hingga ke bandar utama karena belum ada bukti yang cukup kuat.

“Kami belum bisa bertindak dari data ini. Perlu OTT atau triger-nya dulu. Atau kami tingkatkan status BAP dari terpidana sebelumnya. Ini modalnya besar sekali,” jelas Riza,

Praktik penyelundupan lobster terus terjadi dan jumlah kian meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pun kewalahan.

Penyebabnya adalah harga jual lobster di luar negeri terbilang fantastis. Di Indonesia, menurut Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPMKHP KKP), harga termahal Rp60 ribu per benih untuk jenis mutiara.

Sedangkan di Singapura, harganya bisa meroket hingga Rp120 ribu. Dalam satu kali angkut, satu kotak bisa berisi 7 ribu-10 ribu koper atau setara Rp1,2 miliar.

Sementara itu, menurut Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan, regulasi yang diikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tentang larangan ekspor benih lobster dinilai belum cukup efektif untuk mengurangi eksploitasi ilegal.

Menurut data DFW Indonesia, sejak awal 2017 hingga Juni 2017 sudah ada 13 kali upaya penyelundupan yang dilakukan dari berbagai daerah dengan total nilai mencapai Rp158 miliar. Nilai tersebut, kata Abdi, jauh lebih besar dari dua tahun sebelumnya, yakni 2015 dan 2016. (bt)

Komentar

News Feed