oleh

Gatot Nurmantyo Dan Dahlan Iskan Hadir Di Acara Pidato Kebangsaan Prabowo

-Headline-58 views

Dua tokoh mantan Panglima dan mantan mentri BUMN Gatot Nurmantyo dan Dahlan Iskan hadir dalam acara pidato kebangsaan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4/2019).

Gatot tiba di tempat acara sekitar pukul 15.46 WIB. Saat itu Prabowo tengah membacakan tokoh-tokoh yang telah membantunya dalam beberapa bulan terakhir terkait pencalonannya di Pilpres 2019.

Prabowo pun sempat menghentikan pidatonya dan mempersilakan Gatot naik ke atas panggung.

Gatot sempat memberikan hormat ke Prabowo, kemudian mereka saling memberi salam dan berpelukan.

Setelah itu Gatot duduk di sebelah Direktur Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sudirman Said, tepat di belakang podium tempat Prabowo memberikan pidato kebangsaannya.

Selain Gatot, hadir sejumlah petinggi BPN antara lain Fuad bawazier, Dahnil Anzar Simanjuntak, Sufmi Dasco Ahmad, Ahmad Riza Patria, Eddy Soeparno dan Priyo Budi Santoso.

Selain itu terlihat mantan menteri BUMN Dahlan Iskan. Kampanye akbar Prabowo Subianto di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jumat (12/4) memunculkan kejutan. Yakni hadirnya mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dahlan memastikan dukungannya kepada pasangan Prabowo-Sandi.

Dalam acara tersebut, Dahlan didapuk untuk untuk menyampaikan pidato di depan para pendukung paslon 02. Dahlan naik ke atas podium sebelum Prabowo.

Dahlan secara lugas menceritakan latar belakang di balik dukungannya ke Prabowo-Sandi. Dia mengaku bahwa pada Pemilu 2014 mendukung Jokowi. “Waktu itu (2014, Red) saya berharap banyak karena Pak Jokowi punya program besar yang disebut Revolusi Mental. Juga waktu itu Pak Jokowi punya program hebat berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” tutur Dahlan.

Melalui program pertumbuhan ekonomi itu, Dahlan berharap jika selama 5 tahun Jokowi memimpin, pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai USD 7 ribu per tahun. “Karena 5 tahun yang lalu pendapatan per kapita sudah USD 5 ribu per tahun. Jadi wajar saya berharap lima tahun kemudian jadi 7 ribu dan 5 tahun(berikutnya) jadi 9 ribu,” ungkapnya. “Kalau itu terwujud (pendapatan per kapita USD 7 ribu per tahun, Red), Indonesia jadi negara besar dan negara jaya. Tapi itu tidak terlaksana,” lanjutnya lantas disambut riuh tepuk tangan hadirin yang memadati venue.

Maka dari itu, pada Pemilu 2019 Dahlan menjatuhkan pilihan ke Prabowo-Sandi. Dia menegaskan bahwa keputusan itu sama sekali bukan karena masalah pribadinya. “Bukan karena mempertimbangkan nasib saya selama 5 tahun terakhir. Itu saya anggap sebagai risiko saya sebagai pengabdi. Seperti juga risiko Pak Jokowi menjadi presiden difitnah selama 4,5 tahun, bahkan seperti juga Pak Prabowo yang difitnah selama 17 tahun,” katanya.

Komentar

News Feed