Home Politik Membaca Berbagai Upaya Tiga Partai “Sukses” Pada Pemilu 2019

Membaca Berbagai Upaya Tiga Partai “Sukses” Pada Pemilu 2019

by Redaksi

Pada jam 01.46 KPU mengumumkan rekapitulasi suara nasional baik menyangkut Pilpres, Pileg maupun DPD di seluruh Indonesia dan Nasional. Khusus untuk Pemilu Legislatif (DPR-RI) yang diikuti 16 partai politik, untuk memperebutkan 575 kursi DPR, hanya ada 9 partai yang berhasil lolos dari hadangan ambang batas minimal suara sebesar 4 persen. Kesembilan partai tersebut, yaitu PDIP yang tampil sebagai pemenang dengan perolehan 128 kursi (19,33%), disusul Golkar 85 (12,31%), Gerindra 78 (12,57%), Nasdem 59 (9,05%), PKB (9,69%)58, Demokrat 54 (,7,77%), PKS 50 (8,21%), PAN 44 (6,84%) dan PPP dengan hanya 19 kursi (4,52%).

Tiga partai yang mendapat catatan luar biasa dalam Pemilu 2019 ini adalah PDIP yang tampil sebagai pemenang, sekaligus akan menggeser kepemimpinan Golkar di DPR-RI, kedua yaitu Nasdem yang berhasil memperoleh 59 kursi menggeser PKB yang selama ini menempel partai papan atas, dan juga PKS yang berhasil meraup 50 kursi yang signifikan.

Analisis sederhana yang bisa kita lakukan terkait kemenangan PDIP adalah bahwa PDIP jelas-jelas mendapat keuntungan yang signifikan dengan menempatkan kadernya Jokowi sebagai Presiden. Secara langsung atau tidak PDIP berhasil atau setidaknya punya kesempatan untuk mengkapitalisasi kedudukan Presiden untuk kepentingan meraup suara di berbagai daerah. Berbagai program pemerintah bisa dimanfaatkan untuk ikut mendorong kesuksesan partai politik, dan itu lumrah. Satu hal lagi, penting diingat, bahwa dalam konteks pemilu, kader-kader PDIP sudah sangat siap dan paham dengan seluk-beluk pemilu, terutama dalam membaca sikap pemilih yang pragmatis dan cara masuk yang efektif.

Terkait dengan perolehan Nasdem yang luar biasa (59 kursi), yang mereka peroleh secara signifikan di Sumatera Utara (4), Sumsel (3), Jawa Timur (9), Jabar (5), Jateng (5), NTT (3), Sulawesi Selatan (4) dan Papua (3), dapatlah dikatakan bahwa pemilihan figur yang umumnya berlatar politisi-politisi papan atas, sedang menjabat, hingga pengusaha adalah kunci kemenangan Nasdem untuk bertarung di daerah-daerah yang umumnya dengan pemilih pragmatis.

Terlebih bagi sebagian pengamat sudah menduga bahwa dengan keberadaan Surya Paloh sebagai Tim Pemenangan Jokowi, juga sokongan dari media televisi (metro tv) sebagai alat propaganda dan juga dukungan dari kader-kader Nasdem yang sedang menjabat, kekuatan Nasdem terasa begitu kuat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Bahkan demi melewati ambang batas 4 persen, Nasdem tidak sungkan untuk mengajak kader-kader partai lain untuk bergabung dengan Nasdem. Semua menjadi strategi jitu untuk mendongkrak perolehan kursi Nasdem.

Ketiga, PKS. Bisa dikatakan PKS adalah partai berbasis pemilih muslim yang paling sukses dalam Pemilu 2019. Umumnya para analis politik setuju, bahwa kesuksesan PKS di dorong atas peleburan PKS ketubuh “Prabowo” sehingga PKS terhindar dari partai yang selama ini cenderung “alone” menyendiri. Dengan berada dalam barisan Prabowo yang didukung ormas-ormas Islam, PKS setidaknya menerima efek “ekor jas” yang signifikan dalam mendulang suara. Kedekatan dengan ormas Islam dan Habib Rijieq (HRS) setidaknya dipercaya telah menambah kekuatan elektoral PKS pada Pemilu 2019. Bandingkan dengan periode sebelumnya dimana PKS lebih cenderung berjuang “sendirian” lepas dari ormas-ormas Islam lainnya.

Secara signifikan PKS mendapat dukungan dari Aceh (2), Sumbar/Riau (4), Sumatera Utara (4), Lampung (2), DKI (5), Jabar (13), Jateng (5), Banten (3), dan NTB (2). Jika dilihat dari dukungan berbasis kepulauan, PKS mendapat dukungan yang kuat dari Pulau Jawa (29 kursi), Sumatera (13), Kalimantan (3), Sulawesi (2), Bali-NTT-NTB (2), dan Indonesia Timur (1). Artinya, basis kursi PKS diperoleh dari Jawa dan Sumatera dengan perolehan 42 kursi dari 50 kursi yang direbut PKS. Setidaknya, perolehan itu juga mengikuti dukungan suara yang diperoleh Prabowo baik dari Jawa maupun Sumatera. Semua itu tentu saja diperoleh sebagai dampak dari konsistensi PKS yang “setia” menemani Prabowo/Gerindra dalam berbagai kesempatan kontestasi politik sekaligus sebagai partai diluar partai pemerintah (oposisi).

Baca Berita Lainnya