oleh

Muhammadiyah bergerak senyap, akan SEGERA berlaku Dinar Dirham Muhammadiyah*

-Suara Medan-128 views

Keluarga besar Muhammadiyah secara sistematis tengah menjajaki kemungkinan penerapan dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Dimulai setahun lalu oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dilanjutkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan baru-baru ini Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), seminar bertema “Mengembalikan Dinar dan Dirham Sebagai Mata Uang Syariah Untuk Menyelamatkan Perekonomian Global” telah diselenggarakan.

Pembicara seminar adalah para pakar dari berbagai negara, termasuk Shaykh Umar I Vadillo, pelopor gerakan pengembalian muamalah, yang bertindak sebagai “pembicara kunci” dalam ketiga seminar. Pada tingkat Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah soal ini juga pernah dibahas di salah satu rapat plenonya, di Yogyakarta, dengan promotor utamanya Dr Bambang Soedibjo, salah satu ketua PP, dan mantan menteri keuangan, yang sangat paham kelemahan sistem moneter saat ini.

Sementara itu, di kalangan jamaah Muhamamdiyah, penggunaan dinar dan dirham telah mulai dilakukan, hanya saja masih pada skala sangat terbatas dan secara individual. Bahkan, seminar di UMJ di atas disertai dengan pembagian zakat sebanyak sekitar 150 dirham perak kepada mustahik di sekeliling kampus. Sebuah pasar kecil juga digelar hingga mustahik dan umat lain bisa berjual beli dengan dinar dan dirham.

Peluang bagi Muhammadiyah untuk sukses dalam menerapkan dinar dan dirham ini sangatlah besar. Dengan perkiraan 30 juta anggota dan ribuan unit amal usaha di kalangan Muhammadiyah, penggunaan dinar dan dirham bisa berjalan dengan sangat cepat. Rumah sakit dan kilinik, sekolah dari TK sampai universitas, rumah-rumah panti asuhan, hotel dan wisma, unit-unit usaha lain yang ribuan jumlahnya, yang dimiliki keluarga besar Muhammadiyah, merupakan jalur distribusi dan sirkulasi koin dinar dan dirham.

Lazismu, baik di pusat maupun yang tersebar di berbagai jajaran dan tingkat, adalah jalur lain perputaran dinar dan dirham. Penggunaan dinar dan dirham di kalangan keluarga besar Muhammadiyah tidak saja akan bermanfaat bagi kalangan sendiri. Langkah Muhammadiyah ini akan menjadi pemandu, dan lokomotif, ormas dan jamaah-jamaah Islam lain untuk mengikutinya. Dan hal ini tidak saja akan berdampak pada umat Islam di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia karena dinar dan dirham Muhammadiyah akan berlaku dan diterima secara universal di seluruh dunia. Saat ini dinar dan dirham telah digunakan di banyak negeri, mulai dari Maroko sampai Merauke, hanya dalam jumlah terbatas dan belum sistematis.

Meski peluang bagi dinar dirham Muhammadiyah sangat besar, demikian pun tantangannya. Dari serangkaian seminar dan kajian yang telah berlangsung selama ini, jelas tampak bahwa pemahaman di kalangan Muhammadiyah masih beragam. Bahkan, ada yang salah paham dengan mengira penerapan dinar dan dirham ini adalah sebentuk kegiatan investasi emas dan perak. Termasuk “investasi emas bodong” yang merugikan masyarakat sampai triliunan rupiah itu.

Kesalahpahaman ini adalah akibat dari pandangan umum masyarakat yang keliru akibat kampanye pihak-pihak tertentu yang menekankan bahwa emas dan perak adalah “alat investasi terbaik”. Padahal, emas dan perak, dalam syariat Islam merupakan komoditas khusus yang digunakan sebagai alat takar, pengukur nilai, serta sebagai alat bayar dan alat tukar yang harus berputar dalam masyarakat.

Penerbitan dan pengedaran dinar dan dirham sama sekali tidak bermotif bisnis dan mencari keuntungan. Penerapan kembali dinar dan dirham adalah semata-mata untuk memenuhi tuntutan syariat Islam, baik dalam jual-beli maupun ibadah khususnya pembayaran zakat uang dan barang niaga. Tanpa dinar dan dirham banyak ketentuan syariat Islam yang terkait dengan nishab, hudud, mahar, utang piutang, dan jual beli yang adil, dan lainnya, yang tidak bisa dijalankan.

Umat Islam, pada akhirnya, tidak bisa menghindar untuk menerapkan dinar dan dirham ini.
Ini seperti yang dilakukan oleh Sultan Bolkiah tahun lalu ketika hendak menerapkan syariat Islam, maka dinar dan dirham harus kembali dirujuk sebagai standar perhitungan nilai dan harga.

Komentar

News Feed