oleh

Arsyad Lubis Diminta Mundur, Edy Rahmayadi Harus Berani Tepis Isu Lindungi “Mora”

-Headline, Medan-291 views

Harian Medan (Medan) – Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Arsyad Lubis, diminta mundur dari jabatannya karena dianggap gagal dalam memajukan kualitas pendidikan di Sumut. Peringkat nilai Ujian Nasional (UN) Sumut merosot dan kalah dengan Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung dan Riau.

Hal itu disampaikan Direktur Advokasi Lembaga Kajian Pendidikan Sumatera Utara (LKPSU), Muhammad Akbar M. Si, Kamis (11/7). Akbar memaparkan berbagai catatan buruk Dinas Pendidikan Sumut selama dipimpin oleh Arsyad, mulai dari soal buruknya pelaksanaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) online, Ranking UN untuk Sumut, siswa siluman, dan terakhir soal ketidaknetralan Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pendidikan Sumut saat Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgubsu) lalu.

Menurut Akbar, pelaksanaan PPDB online di Sumut yang pelaksanaannya sempat amburadul menjadi perhatian publik. Katanya, padahal dalam pelaksanaannya, anggaran yang dikucurkan untuk PPDB online tersebut tergolong sangat sebesar yakni 5 Milliar. “Coba buka saja mata anggarannya, disitu rinciannya disebutkan 1 Milliar untuk biaya pertemuan dan sosialisasi, 1,5 Milliar untuk pembelian biaya server PPDB, dan lain sebagaianya,” tegasnya.

Menurutnya, namun dalam pelaksanaannya PPDB online di Sumut sempat bermasalah yang berimbas pada sempat gagalnya 2.214 siswa mengikuti ujian PPDB online. Katanya, kenapa hal itu sempat gagal, dan dimana letak salahnya. Padahal anggaran untuk sosialisasi sudah 1 Milliar dan pembelian servernya saja sampai 1,5 Milliar. “Apakah salahnya di anggaran yang kurang sehingga pelaksanaan PPDB sempat gagal ?, atau ada kesalahan lain yang mengakibatkan sempat gagalnya ujian PPDB online tersebut,” katanya.

Lanjutnya, persoalan rendahnya peringkat UN di Sumut juga menjadi perhatian publik, dimana Sumut masih tertinggal jauh dari Provinsi Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara dan Kalimantan Selatan. Katanya, Sumut gagal masuk 10 besar peringkat nilai UN terbaik Nasional, dan mirisnya kalah dari Kalimantan, Bangka Beliau dan Riau.

Menurutnya, belum lagi persoalan sebelumnya, yakni soal siswa siluman yang masuk ke SMA Negeri di Medan, yang sampai sekarang kita belum tahu bagaimana nasib siswa siluman tersebut. Katanya, hal yang paling heboh lainnya ialah beredarnya rekaman suara Sekretaris Dinas Pendidikan Sumut yang menginstruksikan untuk membantu pemenangan Calon Gubernur Sumut pada Pilgubsu 2018 lalu.

“Itu yang paling seram, mobilisasi ASN di Dinas Pendidikan untuk terlibat dalam politik praktis. Jika isi di Dinas Pendidikan Sumut sudah begitu semua, sebenarnya hal yang wajar jika kondisi pendidikan kita hari ini memprihatinkan,” tegasnya.

Akbar menilai, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, tidak boleh tutup mata dan diam dengan kondisi pendidikan kita hari ini. Menurutnya, Pak Gubernur harus berani ambil keputusan dalam menentukan nasib masa depan pendidikan di Sumut. “Jangan pula betul opini yang berkembang itu, bahwa Pak Edy tidak berani mencopot Arsyad Lubis, karena punya hubungan saudara atau dalam bahasa mandailing disebut Mora. Hal ini mengingat istri Pak Edy, Ibu Nawal yang juga ber marga Lubis,” katanya.

Namun menurut Akbar, hal itu tidak lah sampai begitu. Katanya, ya sah sah saja menghormati Mora nya, namun tidak juga karena Mora lantas tidak dievalusai. Akbar berkeyakinan bahwa Pak Edy profesional menjalankan tugas sebagai Gubernur tanpa pengaruh unsur primodial dan kekerabatan. “Sampai dengan detik ini, kami dari pemerhati pendidikan yakin bahwa Pak Edy profesional dan berjiwa kesatria demi membuat Sumut yang Bermartabat,” tegasnya. (Red)

Komentar

News Feed