oleh

Sungai Deli Harus Diselamatkan

Harian Medan (Medan) – Sungai merupakan salah satu anugerah Tuhan yang memiliki berbagai macam manfaat. Manfaat penting sungai tak terhitung jumlahnya baik secara sosial dan ekosistem, termasuk konsumsi air, pertanian, industri, transportasi air, dan juga sarana rekreasi. Keberadaan sungai juga identik dengan sejarah peradaban besar manusia seperti sungai Eufrat dan Tigris di Persia (Iraq), Sungai Gangga (India) dan sungai Nil di Mesopotamia (Mesir).

Di Sumatera Utara terdapat sembilan wilayah sungai (WS), antara lain: WS Wampu Besitang, WS Belawan-Ular-Padang, WS Bahbolon, WS Toba-Asahan, WS Nias, WS Sibundong-Batangtoru, WS Barumun-Kualuh, WS Batang Angkola-Batang Gadis, dan WS Batang Natal-Batang Batahan. (Permen PU dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 Tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai).

Sungai Deli merupakan bagian dari WS Belawan-Ular-Padang yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli. Sungai Deli menarik perhatian untuk kita kaji disini dikarenakan letaknya yang berada di ibu kota Provinsi Sumatera Utara dan menjadi bagian penting di waktu masa jaya Kesultanan Deli.

Pada era Kesultanan Deli, Sungai Deli merupakan urat nadi perdagangan ke daerah lain. Di abad ke-19 aktivitas perdagangan berfokus di Labuhan Deli sebagai pelabuhan utama bagi kegiatan ekspor dan impor di Kesultanan Deli. Komoditi berupa lada dibawa dari pedalaman ke Labuhan Deli menggunakan sampan-sampan kecil atau dipanggul di sepanjang jalan setapak.

Tidak hanya untuk kepentingan dagang, Sungai Deli juga termasuk kedalam alur pelayaran yang meliputi alur Sungai Deli di Kecamatan Medan Labuhan dan sekitarnya dikawasan utara Kota Medan. Keberadaan sungai Deli juga dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan banjir. Sebelum kota Medan didirikan, pusat perkotaan sebelumnya berada di Labuhan Deli. Salah satu alasan dipindahkannya dari Labuhan Deli ke area Lapangan Merdeka sekarang adalah karena alasan banjir. Labuhan Deli tidak bisa dikembangkan sebagai kota Modern karena selalu dan terancam banjir. Maka dipilihlah lokasi yang berdekatan dengan (Sei Deli dan Sei Babura) sebagai kota anti banjir (Kota Modern bergaya Eropa).

Itu Dulu. Bagaimana Dengan Sekarang?

Keindahan, kebersihan, dan sejuta manfaat sungai Deli kini tinggal kenangan belaka. “Rusak” adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi sungai Deli hari ini.

Saat ini, luas hutan di hulu sungai Deli hanya tinggal 3.655 hektare, atau tinggal 7,59 persen dari 48.162 hektare areal DAS Deli. Padahal, dengan luas 48.162 hektare, panjang 71,91 Kilometer (km), dan lebar 5,58 km, Das Deli seharusnya memiliki hutan alam untuk kawasan resapan air sedikitnya seluas 140 hektare, atau 30 persen dari luas DAS. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab banjir di kota Medan dan meluapnya Sungai Deli.

Air Sungai Deli juga telah mengalami pencemaran. Pencemaran yang terjadi diperkuat dengan teridentifikasinya bakteri patogen di muara sungai Deli, seperti: Escherichia Coli, Klebsiella Axytoca, Klebsiella Ornithinolytica, Cedecea Lapegei, Aeromonas Hydrophylia, Aeromonas Sobria, Aeromonas Caviae, Ewingella Americana dan Vibrio Fluvialis. Kesembilan Bakteri tersebut dapat menyebabkan Sindrom Demam, Pneumonia, penurunan daya tahan tubuh pada manusia, serta menginfeksi dan menyebabkan kematian pada ikan (Meliala et al., 2015).

Dua permasalahan diatas menjadi gambaran umum bagi kita untuk mewakili beragam banyaknya permasalahan yang menimpa sungai Deli hari ini. Permasalahan ini muncul disebabkan oleh ulah tangan manusia (masyarakat), tidak dikelola dengan baik (pemerintah), dan ulah para kapitalis jahat.

Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai menjadi salah satu penyebab rusaknya sungai Deli. Masyarakat yang bermukim di DAS Deli telah terbiasa membuang sampah di sungai. Selain itu, pemukiman warga juga semakin dekat dengan badan sungai. Telah berdiri rumah-rumah warga dan gedung-gedung perkantoran di sisi kiri dan kanan sungai. Padahal, seharusnya menurut Perda Kota medan No 2 Tahun 2015 tentang RTRW harus ada minimal 50 meter zona sempadan sungai di sisi kiri dan kanan sungai.

Keseriuasan pemerintah (Pemko Medan) juga tidak terlihat untuk mengatasi permasalahan sungai Deli. Pemerintah seakan membiarkan dan tidak menganggap penting masalah ini. Padahal, sungai ini adalah salah satu ikon penting kota Medan. Rusaknya pengelolaan sungai Deli menandakan rusaknya pengelolaan kota Medan. Bahkan saya katakan buruknya wajah kota Medan hari ini dikarenakan buruknya pengelolaan sungai-sungai di kota Medan (Sei Deli, Sei Babura dll).

Ulah jahat para kapitalis (Pemilik Perusahaan) yang membuang limbah pabrik ke sungai (Sei Deli) juga menjadi faktor penting lain yang menyebabkan rusak dan tercemarnya sungai Deli. Di hulu sungai (salah satu Deli Tua) banyak berdiri pabrik-pabrik di dekat sungai dan sengaja membuang limbahnya ke sungai. Menurut uji lingkungan jelas limbah tersebut berbahaya bagi orang yang ingin menkonsumsi air sungai dan ikan-ikan yang hidup di sungai.

Apa Solusinya?

Setiap masalah pasti ada solusinya. Tapi yang lebih penting untuk konteks ini adalah keseriusan dan komitmen semua pihak (masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis) untuk sama-sama peduli akan penyelematan sungai Deli.

Hingga kini, belum tersedia Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan sungai. Artinya, Sungai (Sei Deli dan Sei Babura) tidaklah dianggap aset yang harus ditata dan dikelola. Walaupun di dalam Perda No 2 Tahun 2015 tentang RTRW ditetapkan jaringan sungai sebagai prioritas pengembangan struktur ruang kota Medan, tapi dengan adanya Perda tersendiri akan lebih serius untuk menata dan mengelola sungai. Perda tersebut juga nanti harus mengatur secara jelas penentuan terhadap garis sempadan sungai, perlindungan bagian-bagian sungai, peran serta masyarakat, serta sanksi administrasi dan ketentuan pidana. Jadi, para pengambil kebijakan wajib menerbitkan Peraturan yang berfungsi untuk menjaga kelestarian sungai Deli dan sungai-sungai lainnya.

Setelah adanya Perda langkah kedua yang harus dibuat adalah menetapkan rencana/model pengelolaan sungai. Pengelolaan DAS secara utuh diselenggarakan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta pembinaan dan pengawasan. Belajar dari negara-negara Eropa yang berhasil mengelola sungai dan menjadikannya modal pembangunan, ada dua model pengelolaan sungai yaitu model Water Framework Directive (WFD) dan Sustainability Appraisal (SA) di Inggris. Kedua model ini perlu dikaji untuk diterapkan.

Dan yang lebih penting untuk menjaga kelestarian sungai adalah kesadaran dari semua pihak (masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis) akan pentingnya menjaga dan merawat sungai. Kepedulian dan kecintaan terhadap sungai harus tertanam dalam diri kita semua. Menjaga sungai harus kita anggap sebagai salah tugas manusia di muka bumi dan perintah Tuhan yang harus dijalankan.

Sebagaimana firman Allah SWT “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan)”

#savesungai
#savesungaideli
#savemedan

Penulis : Ikhwan Kurnia Hutasuhut, S.A.P (Staf Divisi Riset dan Diklat Institut Kolektif Medan)

Komentar

News Feed