oleh

Satu Tahun Kepemimpinan Edy-Ijeck Wujudkan Sumut Bermartabat

-Advertorial-148 views

Harian Medan – Sudah setahun lebih masyarakat Sumatera Utara (Sumut) dipimpin Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah (Ijeck), pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut yang dilantik 05 September 2018 lalu, hasil pilihan 57,58 % masyarakat Sumut dengan total partisipasi sebesar 61,78 %. Mengusung jargon “Sumut Bermartabat”, Edy-Musa mulai membuka lembaran sekaligus harapan baru bagi Sumut yang kala itu kondisinya memang kurang memuaskan.

Tentu saja, banyak visi dan misi Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah semasa masa kampanyenya dulu yang patut disoroti bersama, apakah mampu direalisasikan atau tidak? Lalu, apa saja langkah-langkah strategis yang telah dilakukan oleh Edy-Ijeck sepanjang satu tahun kepemimpinannya?

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi memberikan pembekalan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Sekretariat Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di Aula Raja Inal Siregar Lantai 2 Kantor Gubernur Sumatera Utara Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Senin (29/10/2018). Gubsu berharap dengan pembekalan ini dapat meningkatkan kinerja para ASN. (Foto Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu : Veri Ardian)

1. Membangun Birokrasi yang Efektif dan Bebas Korupsi

Edy-Ijeck tentunya sangat menyadari, citra buruk Sumut yang sebelumnya dikenal sebagai provinsi terkorup di Indonesia, harus segera dihapus dengan membangun birokrasi yang efektif, disiplin dan bebas dari praktek KKN.

Berbagai sidak ke beberapa instansi di bawah Pemprov Sumut mulai digalakkan, untuk memastikan kedisiplinan para ASN. Pernah dalam suatu kesempatan, Edy Rahmayadi melakukan sidak ke kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sumut untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan baik. Dari sidaknya itu, Edy menemukan beberapa pegawai yang tidak disiplin, antrian warga yang cukup panjang, hingga keluhan lambatnya pelayanan.

Musa Rajekshah bahkan pernah menyidak aset-aset Pemprov yang ternyata tidak terpakai dan terkesan boros anggaran. Dalam sidak tersebut, ditemukan berbagai pengadaan barang yang tidak terpakai dan berakhir di gudang penyimpanan aset. Bahkan ada aset-aset Pemprov seperti mobil yang bagian-bagian dalamnya diduga sudah dibongkar. Tentu saja, Wagub kala itu bereaksi keras saat menemukan banyaknya aset yang tidak terpakai dan berada dalam kondisi sudah dibongkar seperti itu.

Berdasarkan hasil beberapa sidak yang sudah dilakukan, Pemprov langsung mengadakan evaluasi secara menyeluruh, anggaran-anggaran yang tidak perlu dipangkas, bahkan melalui efisiensi anggaran yang dilakukan, Edy-Ijeck berhasil melunasi utang warisan dana bagi hasil Pemprov Sumut ke kabupaten/kota sebesar Rp1,4 triliun.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi mengadakan inspeksi mendadak (Sidak) ke Kantor Samsat Medan Utara dan Kantor Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Utara di Jalan Putri Hijau Medan, Senin (10/62019). Gubernur ingin pelayanan Samsat dimulai satu jam lebih cepat dari waktu pelayanan saat ini. Serta memastikan yang melanggar ketentuan akan diberi sanksi. (Foto Biro Humas dan Keprotokolan Setda Provsu : Veri Ardian)

2. Keberpihakan Pada Dunia Pendidikan dan Pengembangan SDM

Keberpihakan Edy-Ijeck pada dunia pendidikan juga berhasil mereka buktikan melalui peningkatan gaji guru honorer yang sebelumnya hanya Rp40 ribu/jam menjadi Rp90 ribu/jam. Para guru honorer tentunya sangat bersyukur atas diberlakukannya kebijakan ini. Apalagi, sudah beberapa tahun belakangan ini kesejahteraan guru honorer terabaikan, sementara tanggung jawab dan pengabdian mereka selama ini sangat besar bagi dunia pendidikan.

Edy Rahmayadi dalam berbagai kesempatan juga menyempatkan dirinya untuk mengunjungi sejumlah sekolah dan kampus. Selain memberikan motivasi kepada para siswa dan mahasiswa, Edy juga menyempatkan dirinya untuk mempelajari beberapa hal yang mesti diperbaiki dalam hal infrastruktur sekolah, pelaksanaan dan birokrasi pendidikan di Sumut.

Tak hanya itu, hanya dalam tempo waktu 30 hari sejak dilantik, Pemprov juga sukses menyelenggarakan MTQN XXVII tahun 2018. Event ini juga sekaligus menjadi momen bagi para generasi muda Sumut untuk meningkatkan prestasinya. Terbukti, kafilah Sumut berhasil meraih juara 3 umum, meningkat sangat jauh dibandingkan pada MTQ Nasional sebelumnya yang diadakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2016 lalu, yang kala itu tidak mampu memperoleh 10 besar.

Kunjungan Wakil Gubernur Musa Rajekshah sekaligus menjadi Inspektur Upacara di Yayasan Pendidikan Harapan 1 Medan

3. Persoalan Lingkungan dan Banjir

Perhatian Edy-Ijeck pada persoalan banjir di Sumut, khususnya di Kota Medan juga sangat besar. Keduanya sangat paham, persoalan lingkungan dan banjir di Kota Medan yang notabenenya adalah Ibu Kota Provinsi Sumut sedikit banyaknya cukup mempengaruhi penurunan laju perekonomian di Sumut.

Karena itulah, berbagai upaya terus dilakukan Edy-Ijeck untuk mengatasi persoalan lingkungan dan banjir tersebut. Di awal masa kepemimpinannya, Edy turun langsung membantu warga yang terdampak banjir, melihat langsung bagaimana kondisi warganya di lokasi banjir, serta memberikan bantuan sembari menyerap aspirasi warga.

Dalam kesempatan tersebut, Edy bahkan beberapa kali mengajak para pejabat terkait seperti Wali Kota dan dinas-dinas terkait untuk ikut bersamanya ke lapangan. Edy juga meminta para ahli yang berkompeten untuk ikut bersamanya mempelajari persoalan banjir di Kota Medan dan sekitarnya.

Tak hanya di Kota Medan, dalam beberapa kali peristiwa bencana banjir di beberapa daerah Sumut, seperti di Mandailing Natal, Gubernur terjun langsung untuk mengatasi permasalahan di sana. Berkat kerja kerasnya bersama jajaran pemerintah daerah Madina, Edy berhasil memulihkan kondisi banjir sekaligus membantu korban.

Pengalaman Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah selama memantau kondisi banjir di Kota Medan dan daerah lainnya dalam satu tahun ini, telah memberikan referensi dan masukan yang cukup untuk menentukan langkah-langkah strategis yang dibutuhkan.

Hingga akhirnya, Agustus 2019, Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah mencanangkan program “Medan Menuju Bebas Banjir 2022”. Tak tanggung-tanggung, demi mewujudkan target tersebut, Edy turun langsung menelusuri sungai-sungai di Kota Medan dan sekitarnya. Bersama para aktivis sungai dari Kopasude Sumut, Edy melakukan sisir sungai menggunakan perahu karet. Selepas sisir sungai, Edy Rahmayadi langsung berdiskusi dengan para aktivis dan masyarakat pinggiran Sungai Deli untuk menyerap aspirasi dan masukan.

Melalui penelusurannya ini, Edy kemudian menemukan berbagai fakta yang terjadi di lapangan, mulai dari masalah pemukiman kumuh di pinggiran sungai, sampah, hingga persoalan limbah. Dari sini sangat terlihat jelas, betapa seriusnya Pemprov memandang persoalan ini. Pihaknya bahkan sudah melibatkan beberapa pihak yang dinilai paham dan cakap di bidang ini, mulai dari kalangan aktivis lingkungan, hingga para profesional di bidang lingkungan.

Rencananya, Pemprov akan menyiapkan dana sebesar Rp12,4 miliar untuk mendukung program “Medan Menuju Bebas Banjir 2020” ini. Sebanyak 12 kelompok kerja (Pokja) yang berasal dari berbagai instansi nantinya akan dikerahkan untuk mewujudkan program ini. Diantaranya yaitu Pokja Sosialisasi Hukum dan Pengaduan Masyarakat, Pokja Perencanaan dan Penganggaran, Pokja Pelaksana Teknis, Pokja Pengendalian Monitoring dan Evaluasi, Pokja Keamanan dan Ketertiban. Selanjutnya Pokja Pembebasan Lahan dan Relokasi, Pokja Kebersihan Lingkungan dan Sungai, Pokja Review dan Revitalisasi Kanal Banjir Drainase Perkotaan dan Pemukiman Kota Medan dan sekitarnya, Pokja Mitigasi Banjir Medan dan sekitarnya, Pokja Humas dan Media Center, Pokja Sekretariat, dan Pokja Kelompok Tenaga Ahli.

Bahkan Pemprov Sumut baru-baru ini juga sudah menggandeng lima konsultan untuk membantu program ini agar berjalan sukses. Kelima konsultan ini nantinya diminta untuk menjalankan program pengerjaan pengendalian banjir daerah aliran sungai (DAS) Belawan, Deli, Percut, dan Padang. Proses pengerjaan program ini akan dilakukan 18 bulan, dimulai dari tanggal 12 Agustus 2019. Kelima konsultan yang dipercaya untuk mengerjakan program tersebut di antaranya yaitu PT Yodya Karya (Persero), PT Duta Cipta Mandiri, PT Indah Karya, PT Global Tirta Nusantara dan PT Pro Lestari.

Selain itu juga, Pemprov juga akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk mendukung berjalannya program ini. Terlebih lagi, Sumut saat ini memperoleh perhatian penuh dari pemerintah pusat, khususnya dalam peningkatan infrastruktur, ekonomi dan pariwisata.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi didampingi oleh Wakil Walikota Medan Akhyar Nasution memimpin normalisasi pelebaran alur Sungai Badera, di pelataran Komplek Bumi Asri Jalan Asrama Medan, Selasa (20/8). Alur Sungai Badera yang akan diperlebar sepanjang 3500 meter, ditargetkan akan selesai pada Desember 2019.

4. Pembangunan Infrastruktur dan Penataan Wilayah

Seperti yang diketahui, lalu lintas di Kota Medan semakin ruwet dan macet. Tidak efektifnya penataan tata ruang kota dan ditambah lagi dengan terus meningkatnya jumlah kendaraan semakin memperparah kondisi kemacetan di kota ini. Untuk itulah, Edy-Ijeck mulai menginisiasi pembangunan jalan tol dalam kota yang ditargetkan selesai pada tahun 2023.

Nantinya, tol ini akan dibangun sepanjang 30,97 km dalam tiga seksi, yakni seksi pertama Titi Kuning-Helvetia sepanjang 14,28 km, seksi kedua Titi Kuning-Pulo Brayan sepanjang 12,44 km, Seksi ketiga Titi Kuning-Amplas sepanjang 4,25 km. Pembangunan tol ini nantinya tidak menggunakan APBD, karena murni melibatkan pihak swasta. Sehingga pembangunan jalan tol dalam kota ini ke depannya tidak akan membebani anggaran daerah.

Selain itu, Pemprov juga akan membangun infrastruktur penunjang lainnya untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi kemacetan di Kota Medan dan sekitarnya, salah satunya yaitu pembangunan Kereta Api Ringan (LRT). Penataan kota juga jauh lebih baik setelah dilakukan penertiban pedagang kaki lima dan berbagai perbaikan lainnya.

Untuk fasilitas pendukung lainnya, Pemprov juga akan membangun Sport Center untuk mendukung pengembangan olahraga yang rencananya akan dibangun di dekat Bandara Kualanamu, Deliserdang, kemudian pembangunan Islamic Center, RS Haji bertaraf internasional, serta fasilitas pengolahan sampah ramah lingkungan dan sebagainya. Lalu, bersama pemerintah pusat, Pemprov juga akan fokus membangun Danau Toba menuju Kawasan Wisata Dunia.

Gubernur Edy Rahmayadi juga mengatakan, dalam melakukan penataan infrastruktur di Sumut ini, Pemprov juga akan melibatkan beberapa arsitek dan tenaga ahli yang profesional. Apalagi kedepannya, Sumut akan memiliki 19 proyek strategis nasional dari pemerintah pusat, tentu saja ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Pemprov ke depannya.

Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah saat rapat di hadapan SKPD mengenai Infrastruktur Sumatera Utara

5. Pemimpin yang Dekat dengan Masyarakat

Edy-Ijeck juga membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat untuk menemui mereka. Di awal kepemimpinannya, keduanya mengundang para abang becak ke Rumah Dinas Gubernur Sumut untuk bersilaturahmi. Ketika saat aksi demonstrasi pun, Edy Rahmayadi turut tampil menemui rakyatnya dan berdialog dengan mereka, bahkan sempat memimpin doa bersama.

Sikap kepemimpinan seperti ini tentunya sangat sulit ditemui saat ini. Sikap Edy-Ijeck ini sekaligus juga memberikan contoh kepada para kepala daerah lainnya Indonesia agar senantiasa dekat dan tidak membangun jarak dengan masyarakat, karena sejatinya seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi bersilaturrahmi ke Pondok Pesantren Musthafawiyah, Desa Purba Baru, Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Jum’at (6/9/2019). Pada kegiatan tersebut Gubernur juga meresmikan Fasilitas Air Bersih dan Fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang merupakan bantuan Pemprov Sumut melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman. (Foto : Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu / Imam Syahputra)

Tentu saja, tidak ada yang sempurna dalam satu tahun kepemimpinan Edy-Ijeck. Setiap kekurangan tentunya masih ditemui. Kendatipun begitu, apa yang sudah dilakukan Edy-Ijeck dalam satu tahun kepemimpinannya layak diapresiasi. Sebagai langkah permulaan, Edy-Ijeck dinilai cukup sukses membangun pondasi awal kepemimpinannya. Karena memang tidak mudah membangun Provinsi Sumut yang sebelumnya sarat akan permasalahan yang cukup kompleks dan pelik.

Mengenai bagaimana hasil akhirnya nanti, marilah sama-sama dinantikan kelak di akhir kepemimpinan mereka, apakah misi “Sumut Bermartabat” berhasil atau tidak. Tentu saja diharapkan, kepemimpinan ini membawa perubahan baru yang lebih baik bagi Sumut, yakni sesuai dengan jargon Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah, Sumut Bermartabat. (Redaksi)

Komentar