Home Komunitas Jurnal Indonesia Kalah Bersaing

Jurnal Indonesia Kalah Bersaing

by Redaksi

HARIAN MEDAN (MEDAN) – Sampai saat ini, jurnal Indonesia masih kalah bersaing dalam mencapai indeksasi jurnal.
Hal itu disampaikan pembicara dari Universitas Bengkulu Prof. Safnil Arsyad, MA.,Ph.D, dengan materi “Rhetorical Analysis of Academic Genre in English for Specific Purposes Contexts; Methodology Issues pada Konferensi Nasional Pascasarjana Program Studi Linguistik (KNPPSI) Ke-3 di Aula Sekolah Pascasarjana USU, Sabtu (30/11/ 2019).
KNPPSI kali ini angkat tema : “Isu dan Aplikasi dalam Linguistik, Sastra dan Budaya”. Kegiaran ini digelar Program Studi Linguistik FIB Universitas Sumatera Utara.
Prof. Safnil Arsyad, dalam paparannya mengungkapkan, kajian bahasa, sastra dan budaya saat ini masih kalah dengan bidang sains dan teknik dalam hal publikasi di jurnal-jurnal ilmiah bereputasi Scopus dan jurnal nasional.
Permasalahan besarnya adalah jurnal-jurnal Indonesia kalah saing dalam mencapai indeksasi jurnal bereputasi seperi Scopus, begitu juga para ahli dibidang bahasa, sastra dan budaya juga tidak bisa bersaing untuk meloloskan tulisannya untuk terbit di jurnal bereputasi tersebut.
Bisa jadi, menurutnya, salah satu faktornya adalah nilai juang dan etos dirinya dalam hal publikasi mudah menyerah. Dua, tiga kali ditolak oleh publisher, terus tidak mau melanjutkan kembali hingga berhasil dipublikasikan.
Menurut Prof Safnil, Ada beberapa trik agar karya tulis ilmiah kita berhasil dipublikasikan di jurnal bereputasi, diantaranya: ikuti konferensi dengan luaran publikasi di jurnal terindeks scopus, tunjukkan kontribusi/signifikansi riset yang dilakukan dan kebaruan temuannya, pahami ekspektasi reviewer dan practice and patience.
“Agar artikel kita berhasil dipublikasikan di jurnal bereputasi, kita harus memahami struktur research article abstract, yaitu: background / indtoduction / situation, the purpose of the research, methodology / materials / subject of the procedure how research is conducted, results / findings, and conclusions / significance. Jika kita ada kemauan pasti ada jalan menuju publikasi karya kita di jurnal bereputasi internasional, ” demikian Prof Safnil.
Sementara Dr. Eddy Setia, selaku pemateri kedua memaparkan, pembelajaran bahasa di era disrupsi 4.0 harus lebih inovatif. Pengajar bahasa harus memahami konsep linguistik dan metalingual, baik secara implisit dan eksplisit. Tanpa memahami konsep ini, pengajar bahasa akan mengalami kendala karena tidak mampu mensinergikan dengan kontekstual dan budaya.
Menurut Eddy Setia, pengajar bahasa di era 4.0 saat ini harus lebih mampu menyesuaikan antara materi dan realitas sosial yang dikemas dalam media berbasis digital. Pengajar yang tidak mampu menyesuaikan diri, materi yang diajarkan menjadi tidak diminati peserta didik. Jika minat saja tidak bisa dimunculkan, pasti tujuan berikutnya akan terabaikan.

Setelah usai kedua materi memaparkan kajiannya dihadapan ratusan peserta, dilanjutkan dengan tanya jawab seputar tema yang diangkat, kemudian dilanjutkan dengan presentasi paralel dari puluhan pemakalah dihadapan peserta. Makalah yang terpilih akan diterbitkan pada jurnal terakreditasi nasional. (FIB USU). (Red/.)

Baca Berita Lainnya