Home Suara Medan Damai dengan Corona, Damai dengan Pemerintah

Damai dengan Corona, Damai dengan Pemerintah

by Redaksi

Arifin Saleh Siregar (Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara)

HARIAN MEDAN (OPINI) : Jarang-jarang Saya peduli dan suka dengan pernyataan atau pidato yang dikeluarkan pejabat pemerintah. Selain karena pesannya biasa-biasa saja, cara penyampaiannya pun menurut Saya seringkali juga amat biasa. Tapi berbeda dengan pidato atau pernyataan Presiden RI Joko Widodo yang disampaikan ke publik, Kamis, 7 Mei 2020 kemarin. Kali ini, Saya justru peduli dan amat suka.

Peduli dan suka bukan karena cara penyampaian atau intonasi suaranya. Bukan pula karena lokasi tempat menyampaikan pernyataan itu, bukan juga karena pakaian khas kemeja putih yang nampak di video tersebut. Saya peduli dan suka, karena isi atau pesan dari pernyataan/pidato tersebut sangat cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini.

Kemarin, Presiden Jokowi mengatakan agar kita hidup berdamai dengan Covid-19. “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, dalam video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (7/5).

Pernyataan yang disampaikan lewat video tersebut langsung dikutip berbagai media massa menjadi sebuah berita. Judulnya bermacam-macam, tapi isi beritanya relatif sama. Kompas.com, misalnya, membuat judulnya:  “Jokowi: Kita Harus Hidup Berdamai dengan Covid-19 sampai Vaksin Ditemukan”.

Kata damai yang dipakai sebagai diksi dalam pernyataan tersebut, memang menarik. Meski menjadi sorotan dan menuai pro kontra, tapi Saya yakin banyak orang yang bisa mencernanya dan mampu memaknai apa yang dimaksud presiden.

Apalagi tak lama berselang, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin memperjelas, pernyataan presiden menyiratkan pesan agar masyarakat bersabar dan tidak menyerah menghadapi pandemi Covid-19. “Hidup berdamai” itu diartikan penyesuaian baru dalam kehidupan bisa juga disebut the new normal, tatanan kehidupan baru.

Ajakan damai itu memang masuk akal. Ibarat perang, ajakan damai sering muncul. Meski sudah ada yang kalah dan ada yang menang. Atau sebaliknya, meski belum tahu siapa pemenangnya. Kata damai itu lumrah di kancah perang.
Perang melawan Covid-19 sudah berbilang bulan kita lakukan. Hingga hari ini belum tuntas. Korban terus berjatuhan. Kehidupan terganggu. Hampir semua daya dikerahkan. Jika terus berlarut, kondisi yang lebih parah bisa saja terjadi.

Masalahnya, di sisi lain, musuh teramat kuat. Susah mendeteksinya. Ia bisa melompat ke sana ke mari. Ia bisa tiba-tiba muncul. Bikin panik dan juga ketar-ketir.

Makanya, ajakan damai dengan maksud penyesuaian baru dalam kehidupan sangat masuk akal. Artinya, perang melawan musuh (Covid-19) harus jalan terus, tapi cara hidup atau pola hidup harus disesuaikan.

Persepsi Saya, ajakan damai itu bukan berarti menyerah terhadap corona atau tunduk pasrah terhadap Covid-19. Tapi, lebih kepada upaya membentuk dan menyesuaikan kehidupan dengan tatanan baru, sehingga mampu lebih tangguh melawan wabah dalam perang-perang selanjutnya.

Sekarang, kita berharap ada lanjutan dari ajakan hidup berdamai atau kehidupan tatanan baru itu. Agar kita tahu, bagaimana caranya? Bagaimana memulainya? Apakah akan disiapkan juklaknya (pentunjuk pelaksana)? Apakah ada juknisnya (petunjuk teknisnya)? Atau juga ada SOP-nya (standar operasional prosedurnya)?

Sembari menunggu kelanjutan hidup berdamai dengan Covid-19, dalam kondisi saat ini hidup berdamai dengan pemerintah juga pantas digaungkan. Damai dengan pemerintah dalam maksud bahwa kita harus banyak-banyak maklum dengan kebelummampuan mereka menghempang atau mengatasi Covid-19 ini.

Harus sama-sama dipahami, virus kali ini memang dahsyat. Penyebarannya menakutkan. Aneh dan ribet. Tak pernah diprediksi. Negara kaya dan maju pun luluh lantak dibuatnya.

Jika pemerintah masih gagap, kita harus maklum. Jika mereka tidak sigap, kita harus maklum. Jika misalnya masih ada yang gelagapan, kita harus maklum. Jangan “diserang”, jangan diprotes.

Jika pemerintah, lebih-lebih kepala daerah (gubernur, bupati, walikota) gagap atau gelagapan, maklumi sajalah. Dulu pun ketika mendaftar ke KPU atau ketika kampanye, bisa dipastikan di visi, misi, dan program mereka tak pernah tertulis atau tak pernah tersampaikan ke publik bagaimana cara mengatasi wabah corona.

Jika ada kepala daerah yang marah-marah dalam upaya mengatasi corona ini, maklum sajalah. Jika ada dengan muka tegang, maklumi jugalah. Jika ada dengan selalu tersenyum, maklumi juga. Jika masih ada yang tetap slow dan santai, maklumi jugalah. Sekali lagi, jangan “diserang”, jangan diprotes.

Jika ada bupati atau walikota berpolemik dengan menteri atau pejabat pusat, maklum sajalah. Demikian juga, jika antarkepala daerah juga ada yang bertengkar, bantah-bantahan, maklumi jugalah.

Begitu juga dengan pejabat pemerintah di bawahnya. Para kepala dinas dan kepala bagian juga tak pernah mendapat arahan terkait virus corona ini. Wabah ini tak pernah menjadi bagian dari tupoksinya. Mereka juga tak pernah studi banding tentang ini. Kalau ikut-ikutan tak sigap, maklumi jugalah.

Apa yang mereka lakukan hari ini, baik tindakan antisipasi, improvisasi, dan maksimalisasi langkah penyembuhan, bisa dimaknai sebagai upaya sporadis. Bukan sebuah perencanaan  matang yang sudah disusun jauh hari dari tahun-tahun sebelumnya.

Yang tak boleh kita maklumi adalah jika mereka memanipulasi bantuan untuk kepentingan pribadi atau keuntungan kelompoknya. Tidak boleh menukangi anggaran dengan dalih mengatasi corona, tapi justru memperkaya diri. Tidak ada damai untuk paktik-praktik seperti ini. Dan kalau ini, harus “diserang” dan diprotes.

Damai dengan cara banyak-banyak maklum, mudah-mudahan bisa membuat pemerintah tidak berlama-lama dalam kepanikan dan kegelagapan. Bisa membuat mereka makin konsentrasi mengatasi pandemi. Damai dengan cara ini juga mudah-mudahan dapat mengurangi tensi atau perselisihan yang muncul karena buntut wabah corona ini.

Ya, jangan-jangan dengan ajakan hidup berdamai seperti yang disampaikan presiden dan damai dalam artian banyak maklum terhadap pemerintah, justru bisa membuat corona segera berlalu. Ya, mana tahu kan? ***

Baca Berita Lainnya