Home Headline Sindir Akhyar soal Kota Terkotor, Gerindra Yakin Bobby Bawa Kembali Piala Adipura ke Medan

Sindir Akhyar soal Kota Terkotor, Gerindra Yakin Bobby Bawa Kembali Piala Adipura ke Medan

by Redaksi

HARIAN MEDAN (MEDAN) : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Medan sebagai kota metropolitan terkotor se-Indonesia pada 2019. Status tersebut diterima Medan setelah  mendapat nilai terendah dalam penilaian Adipura 2017-2018.

Rendahnya nilai sebuah kota dalam penilaian adipura itu dipengaruhi beberapa faktor. Mulai dari nilai jelek karena melakukan pembuangan terbuka (open dumping). Ada pula kota yang mendapat skor rendah karena belum membuat kebijakan dan strategi nasional (Jakstranas) pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

Faktor lainnya yang membuat hasil penilaian adipura sebuah kota menjadi rendah adalah komitmen yang kurang, anggaran kurang, serta partisipasi publik yang kurang.

Wakil Ketua Gerindra Sumut, Sugiat Santoso, mengatakan status Medan sebagai kota terkotor harus diakhiri. Dia menilai Pemko Medan di bawah kepemimpinan Dzulmi Eldin hingga Akhyar Nasution tak punya konsep yang jelas dalam mengelola sampah.

“Pak Akhyar pada 2019 pernah bilang Medan dikepung 2.000 ton sampah setiap hari dan 50 persennya adalah sampah rumah tangga. Tapi, Pak Akhyar tak pernah menjelaskan detail apa solusinya agar ribuan ton sampah itu bisa dikelola dengan baik dan tidak mencemari lingkungan,” ucap Sugiat di Medan, Sabtu (26/9/2020).

Sugiat menilai jumlah tersebut hanya sampah yang terangkut dan terdata. Dia mengaku yakin jumlah sampah yang dihasilkan penduduk Medan lebih dari angka tersebut.

Juru Bicara Tim Pemenangan Bobby Nasution-Aulia Rachman ini pun menilai ada sejumlah kendala dalam mengatasi masalah sampah di Kota Medan. Pertama, kata Sugiat, kurangnya fasilitas tempat sampah.

“Tak usah jauh-jauh kita ke Belawan, Martubung, atau ke Helvetia sana. Cukup lihat itu kawasan dekat Lapangan Merdeka, Kesawan atau sekitar Istana Maimun. Itu kan di pusat kota, tapi ada berapa banyak tempat sampah di situ?” ujarnya.

“Bayangkan, kalau ada orang makan permen saat jalan di trotoar Kesawan, lalu nggak ada tong sampah. Nah, pasti itu dia buang sembarangan. Jangan harap orang mau ngantongi sampah lama-lama. Tapi kalau ada tong sampah tiap 10  meter, tak usah lah dulu yang dipisah organik, anorganik, yang penting ada. Nah, itu bisa orang tadi jalan sedikit lalu buang bungkus permennya ke tempat sampah. Itu baru hal sederhana,” sambung Sugiat.

Setelah tempat sampah tersedia, kata Sugiat, harusnya tersedia pula sarana pengangkutan ke tempat pembuangan akhir hingga tenaga kebersihan yang cukup. Sugiat juga menilai Medan harusnya punya tempat pengelolaan sampah terpadu, bukan sekadar ditumpuk secara terbuka saja.

Sugiat kemudian menjelaskan soal masalah pengelolaan sampah berdasarkan data di situs Strategi Penyelenggaraan Kawasan Permukiman (SPKP) Cipta Karya Kementerian PUPR. Dia menyebut berdasarkan hasil studi Rencana Kerja Penurunan Emisi SLCP dari Pengelolaan Limbah Padat Perkotaan di Kota Medan 2019–2025, terdapat 79 bank sampah yang aktif per Februari 2018.

“Jumlah sampah yang dijual oleh seluruh bank sampah di Medan adalah sebanyak 57.050 kg per bulan atau sekitar 2 ton per hari. Dari 82 TPS yang ada di Kota Medan, hanya 1 yang memiliki fungsi 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle yang dikenal sebagai TPST-3R, yaitu TPS-3R Pasar Tani Medan Berseri, Medan Marelan yang tercatat mengumpulkan sampah 1 ton/hari untuk dipilah dan yang dapat diaur ulang, dijual kembali,” ucap Sugiat.

Dia mengatakan pada 2018, rata-rata trip pengangkutan sampah di Medan sebesar 263 trip/hari dan mengangkut sampah sebesar 516 ton/hari menuju TPA. Di menyebut kajian itu juga menunjukkan kondisi pelayanan sampah yang direduksi di TPS-3R di Medan baru 0,13% dan tingkat pelayanan baru 58,75 persen.

“Padahal jumlah sampah mencapai 2.000 ton. Ini belum lagi jika ada perhelatan besar di Medan serta seiring bertambahnya penduduk. Itu baru data 2018,” ucapnya.

Sugiat lalu menyoroti anggaran Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan pada 2019 Pemko Medan yang berjumlah Rp 101.160.093.208. Menurut Sugiat, jumlah itu termasuk besar. Dia menilai harusnya pengolaan sampah di Medan bisa berjalan dengan baik jika jumlah anggarannya sebesar itu.

“Saya meyakini ada masalah manajemen. Akhyar selaku Kepala Daerah seperti lepas tangan dan tidak mem-push anak buahnya agar bekerja keras. Saya juga melihat tidak ada inovasi dalam mengatasi masalah sampah ini. Kalau sekadar imbauan saja, saya kira tak ada gunanya,” ucap Sugiat.

Untuk itu, kata Sugiat, perlu ada pergantian pimpinan di Kota Medan. Dia mengaku optimis Bobby Nasution dan Aulia Rachman bisa membawa terobosan dalam pengelolaan sampah di Medan.

“Bobby dan Aulia ini anak muda. Mereka punya inovasi. Bobby juga pernah menyampaikan keinginannya agar Medan dikenal sebagai kota yang bersih. Saya yakin Bobby bisa memberi terobosan agar anggaran, sarana hingga prasarana pengolaan sampah di Medan bisa dikelola secara efektif hingga status kota terkotor bakal lepas dari Medan dan piala adipura bisa didapat lagi,” tegas Sugiat. (Red/)

Baca Berita Lainnya