Home Aceh Banjir Bandang Hantam Aceh Tenggara

Banjir Bandang Hantam Aceh Tenggara

by Redaksi

HARIAN MEDAN (KUTACANE): Banjir bandang, Sabtu (14/11/2020) malam sekira pukul 19.20 menghantam beberapa kawasan di Kabupaten Aceh Tenggara.

Dalam peristiwa itu, puluhah rumah warga dilaporkan porak-poranda, 10 hektare lahan pertanian rusak parah. 2 Jembatan permanen juga dilaporkan tersumbat dan jaringan irigasi rusak. Kerusakan akibat banjir bandang itu terjadi di Kute Sepakat Desa Kati Jeroh ,Kecamatan Deleng Pokhkisen dan di Desa Lawe Sagu Hulu, Desa Kandang Mbelang Mandiri , Kecamatan Lawe Bulan.

Kalaksa BPBD Aceh Tenggara, Asbi ,ST, kepada Harian Medan via WA, Minggu (15/11/2020), sore, menyebutkan pihaknya hingga kini terus bekerja, segenap potensi dikerahkan untuk membuka akses agar warga dapat kembali beraktivitas normal.

Disebutkan, banjir bandang membawa material lumpur, batu, bongkahan kayu, terjadinya banjir, akibat dari cuaca ekstrem. Asbi menjelaskan, bencana ini berawal dari luapan Sungai Uning, di Desa Kati Jeroh, Kecamatan Deleng Pokhkisen. Kejadian ini berdampak kepada 18 kepala keluarga di desa kandang belang mandiri, dengan jumlah jiwa 70 , dirinci di desa Lawe Sagu Hulu, di Kecamatan Lawe Bulan, terdampaK 27 KK , dengan jumlah jiwa 105 jiwa. sementara di Desa Kati Jeroh, Kecamatan Deleng Pokhkisen warga terdampak banjir terdata 4 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 13 jiwa. Kondisi lapangan saat ini debit air sudah surut, eskavator, alat berat BPBD dipastikan masih bekerja dilapangan, ditambahkan, warga terdampak banjir juga sudah bergerak melakukan pembersihan, kata Asbi,ST.

Taufik Hidayat, pegiat sosial kemasyarakatan dimalam kejadian turun ke lokasi banjir bandang, kepada Harian Medan menyebutkan , banjir kemarin terjadi oleh luapan sungai buluh Seme, adapun rumah warga yang terdampak sebanyak 3 unit, dirinci, 1 rusak berat, 2 rusak ringan.kecuali itu, terpantau kerusakan saluran irigasi, lahan pertanian, kebun kakao,dan 1 unit jembatan jalan usaha tani tersumbat oleh tumpukan kayu.

* Perusakan hutan biang keroknya.

Yashut, pegiat pecinta lingkungan, Minggu sore, kepada harian medan, mengaku gerah dengan statemen yang ditebar sebagian orang, seolah luapan sungai saja yang menjadi faktor penyebab banjir bandang itu. Yashut meminta semua pihak untuk jujur dan mau membuka mata.

Terjadinya tragedi bencana banjir bandang yang memporak-porandakan kehidupan warga ini, faktor utamanya adalah aktivitas perusakan hutan Leuser pembalakan liar yang berlangsung dikawasan inti, zona penyangga, kawasan ekosistem, hutan lindung Taman Nasional Gunung leuser, Aceh Tenggara, terpenting , sebut Yashut, jangan dilupakan, alih fungsi hutan jambur latong sangap besar kontribusinya menjadi faktor penyebab petaka banjir bandang itu.

Terkait alih fungsi puluhan hektar hutan Jambur Latong, yang terletak dihulu lokasi banjir bandang, ungkap Yashut, pada tahun 2018 , sudah dilaporkan ke Polres Aceh Tenggara, bmmada pemalsuan data petani, terendus ada permainan dilakukan oknum pejabat daerah untuk menguasai lahan hutan jambur latong, dengan mengkambing hitamkan petani, membuat data palsu petani.

Terkait akal bulus untuk memuluskan aksi alih fungsi hutan tersebut, Yashut juga sudah berupaya mewanti- wanti , langsung menghubungi Mennteri Lingkungan Hidup , sebab dikawatirkan alih fungsi hutan ” akal-akalan” ini , berujung petaka, rawan berakibat bencana banjir.

Namun semua upaya Yashut ini seolah diremehkan.Kata Yashut, dibeberkan, kecuali proses penyidikan polisi itu dihentikan, celakanya, pihak Kementerian Lijgmmngkungan hidup dan KPH, juga dinilai , terkesan tutup mata, tak serius menyikapi persoalan hutan jambur latong yang sewaktu-waktu mendatangkan bencana bagi warga.

Amri Sinulingga, ketua LSM Geplak, melalui Harian Medan, terkait sinyalemen ada pejabat bermain untuk menguasai lahan hutan jambur latong, dan diketahui 2 tahun lalu sudah dilaporkan ke aparat hukum, Amri menyebutkan, dengan terjadinya banjir bandang ini, diharap pihak Lolres Aceh Tenggara, kembali melakukan sidik dan lidik , bahkan Amri Sinulingga juga mengaku , dirinya juga memiliki bukti yang menguatkan aduan Yashut tentang pemalsuan nama- nama data penduduk , yang disebut-sebut petani jambur latong itu. Sementara itu, arafik beruh, ketua LSM Gakag, menekan pihak dinas sosial teliti dalam pendataan dan penyaluran jadup terhadap korban banjir bandang, kecuali itu disampaikan agar pihak BPBD Aceh Tenggara bekerja tuntas membantu membersihkan material bongkahan batu, kayu yang menghambat aktivitas warga, jangan setengah jalan, kerja itu ditinggalkan, pungkas Arafik Beruh.( RED/MP).

Baca Berita Lainnya