Home Pendidikan WR I : 3 Wakil Rektor USU Tidak Pernah Dilibatkan

WR I : 3 Wakil Rektor USU Tidak Pernah Dilibatkan

by Redaksi

HARIAN MEDAN (MEDAN) : Wakil Rektor I USU, Prof Dr Ir Rosmayati Tanjung mengungkapkan, 3 WR di USU, masing-masing WR I, II dan V tidak pernah dilibatkan dalam proses terbitnya Surat Keputusan Nomor 82/UN5 1 E/SK/KPM/2021.

Surat Keputusan itu tentang penetapan sanksi pelanggaran norma Etika Akademik/Etika Keilmuan dan Moral Civitas Akademika atas Nama Dr Muryanto Amin S.Sos, M.Si Dalam Kasus Plagiarisme yang diterbitkan oleh Rektor USU Prof Runtung Sitepu belum diterima oleh Muryanto Amin. Tapi salah satu pimpinan USU sudah melakukan konferensi pers pada 14 Januari 2021.

Hal itu disampaikan WR I  Prof Dr Ir Rosmayati saat berbicara di Medan, Sabtu (16/01/2021), bersama WR II Prof Dr dr M Fidel Ganis Siregar dan WR V Ir Luhut Sihombing, MP,

Dari awal pembentukan Tim Penelusuran dibentuk oleh Rektor USU Prof Runtung Sitepu, beberapa hari setelah terpilihnya Muryanto Amin sebagai Rektor USU. Salah satu pertimbangan pembentukan tim, karena pemberitaan media massa.

WR I kemudian menegaskan,Lapor.go.id resmi dikelola kepresidenan, diteruskan ke Kementerian Pendidikan. Nah apa yang ditindaklanjuti Rektor, sepertinya bukan sesuatu yang resmi. Karena aduan tentang Muryanto Amin hanya dari email, bukan dari Lapor.go.id.

Tim penelusuran, sudah mengeluarkan keputusan tapi tidak memanggil pihak yang terlapor. Ada alurnya sebenarnya, tapi tidak digunakan. Harus ada pendampingan yang melakukan plagiat dan dibandingkan dengan berkas aslinya. Ini kan tidak dilakukan.

Pertemuan kedua barulah dilakukan klarifikasi oleh Rektor Terpilih di hadapan Dewan Guru Besar. Hasilnya, Tim Penelusuran tidak ada rekomendasi apapun hanya untuk diteruskan ke Dewan Guru Besar. Di rapat pleno Dewan Guru Besar berdebat panjang, tapi kita menunggu hasil rapat pleno Dewan Guru Besar. Hingga saat ini kita tidak pernah mendapatkan rekomendasi rapat Dewan Guru Besar. Apapun yang direkomendasikan harus dipublikasikan, tapi tidak pernah berbunyi, terangnya.

Lalu kita tidak tahu menahu, rektor membentuk tim Komisi Etik. Kami bertiga (WR I, II, dan V) tidak pernah dilibatkan dalam pembentikan Komisi Etik ini. Kalau ini penting, harusnya kami dilibatkan. Sampai personal-personalnya kami tidak tahu siapa. Tim Penelusuran juga kami tidak tahu siapa.

Jadi kita melihat independensinya juga diragukan. Saat pengumuman hasilnya kami bertiga diundang hanya untuk mendengarkan. Karena kami tidak dilibatkan dari awal, maka kami menolak hasil tersebut. Kami sudah menyampaikan surat penolakan pada 13 Januari 2021. Tapi tidak pernah diberitahukan tentang surat penolakan kami hingga muncul SK Rektor No 82, demikian Prof Dr Ir Rosmayati.

Semenrara Wakil Rektor V USU, Ir Luhut Sihombing, MP menyebutkan, dari awal kasus ini kan bukan plagiat seperti yang ada dalam Permendiknas No.17 Tahun 2010. Kasus ini bukan perihal mencuri karya orang lain, tapi tulisan milik saudara Dr.Muryanto Amin sendiri. Jadi masih debatable dan tidak substansif. Hasil rapat Dewan Guru Besar juga tidak kesimpulan bahwa ada kesalahan. Banyak pendekatan penanggulangan yg bisa dibuat. Bisa refresif, kuratif bisa juga persuasif. Disini perlunya ada rapat pimpinan agar keputusannya kolektif kolegial sesuai dengan amanat Peraturan Menristekdikti Nomor.54 Tahun 2016. Tanggal 13 Januari 2021 kita diundang untuk mendengarkan hasil rekomendasi Komisi Etik, dari hasil itu, Rektor USU Prof Runtung,SH.MHum mengatakan akan menganalisis dan melihat kembali untuk membuat suatu keputusan.
itu sebenarnya harapan saya,  tapi ternyata tanggal 14 Januari 2021 keputusannya sudah dibuat.Dampak tindakan refresif ini akhirnya telah merugikan institusi USU sendiri, demikian Luhut MP Sihombing. (Red/.)

Baca Berita Lainnya